SINTANG – Tak hanya dikenal karena kemegahannya sebagai salah satu batu monolit terbesar di dunia, Bukit Kelam di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, juga menyimpan pesona lain yang tak kalah memesona. Di kaki bukit raksasa itu terbentang hamparan sawah hijau yang membentuk lanskap alam menakjubkan, bak lukisan alam yang hidup dan menenangkan.
Bentangan sawah yang luas dan berundak-undak menyajikan pemandangan kontras yang harmonis dengan tebing kokoh Bukit Kelam di belakangnya. Saat pagi tiba, kabut tipis menyelimuti hamparan padi muda, menciptakan nuansa magis yang kerap menghipnotis siapa saja yang datang berkunjung.
Wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Sintang, sering kali menjadikan kawasan kaki Bukit Kelam sebagai spot foto favorit. Tak sedikit pula fotografer dan pembuat konten yang menjadikan lokasi ini sebagai latar karya mereka. Perpaduan warna hijau tanaman padi, birunya langit, serta siluet Bukit Kelam yang megah, menyuguhkan panorama alam yang sulit ditemukan di tempat lain.
Tak sekadar indah, sawah di kaki Bukit Kelam juga menjadi cermin kehidupan masyarakat lokal. Di sini, pengunjung bisa melihat langsung aktivitas petani Dayak yang menanam, merawat, hingga memanen padi secara tradisional. Bagi mereka yang tertarik dengan wisata berbasis pengalaman, ini adalah momen langka untuk ikut terlibat langsung dalam proses bertani.
“Melihat pemandangan sawah dari kaki Bukit Kelam itu seperti terapi alami. Apalagi saat matahari mulai naik dan kabut terangkat perlahan, rasanya damai sekali,” kata Ayu, seorang wisatawan asal Yogyakarta yang berkunjung ke Sintang bersama komunitas fotografinya.
Beberapa desa yang berada di sekitar kaki Bukit Kelam, seperti Desa Kebong dan Desa Jerora, kini mulai membuka diri terhadap kunjungan wisatawan. Warga lokal dengan ramah menyambut tamu dan bahkan menyediakan penginapan sederhana dengan nuansa rumah adat. Pengalaman tinggal di rumah warga sambil menikmati keindahan alam sekitar menjadi daya tarik tambahan bagi para pelancong.
Bentangan sawah ini juga menawarkan berbagai spot menarik yang Instagramable. Di beberapa titik, telah dibangun gardu pandang sederhana yang memungkinkan pengunjung menyaksikan panorama dari sudut terbaik. Tak hanya untuk swafoto, tempat ini juga cocok untuk meditasi, yoga alam, atau sekadar bersantai menikmati semilir angin.
Dinas Pariwisata Kabupaten Sintang melihat potensi besar dari kawasan ini, dan mulai mengembangkan konsep wisata edukatif dan agrowisata. Sekolah-sekolah dari kota Sintang dan sekitarnya sering kali mengadakan kunjungan edukasi ke sawah ini, mengajak pelajar untuk belajar tentang pertanian, ekosistem sawah, serta pentingnya menjaga kelestarian alam.
“Kawasan ini adalah aset luar biasa. Tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai ruang rekreasi yang mendidik dan menyembuhkan,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Sintang, Hendrika.
Keindahan sawah di kaki Bukit Kelam tidak mengenal musim. Saat masa tanam, hamparan hijau muda mendominasi lanskap. Ketika musim panen tiba, warna kuning keemasan menyelimuti areal persawahan, menciptakan kesan hangat dan megah. Bahkan saat ladang digenangi air sebelum ditanami kembali, pantulan langit dan bukit menciptakan pemandangan cermin alam yang luar biasa.
Pengunjung juga bisa menikmati kuliner khas hasil bumi lokal, seperti nasi punar, ikan sungai bakar, dan sambal terasi segar buatan warga desa. Semua pengalaman ini membuat kunjungan ke kaki Bukit Kelam bukan sekadar perjalanan, tetapi petualangan rasa dan makna.
Dengan promosi yang terus digencarkan oleh pemerintah daerah dan pelibatan aktif masyarakat, kawasan sawah di kaki Bukit Kelam memiliki potensi besar sebagai destinasi eco-cultural tourism. Kombinasi antara keindahan visual, kearifan lokal, dan nilai edukatif menjadikan tempat ini destinasi yang lengkap.
“Tujuan kami adalah menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata yang lestari. Kami tidak hanya ingin menarik wisatawan, tapi juga ingin menjaga alam dan budaya yang menjadi kekuatan kita,” tambah Hendrika.
Sebagai ikon baru dalam promosi wisata Sintang, sawah di kaki Bukit Kelam adalah bukti bahwa keindahan tak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang, ia ada dalam kesederhanaan-dalam barisan padi yang tumbuh, dalam langkah pelan petani, dan dalam keheningan alam yang memberi kesejukan hati. (Red)

